Gatomon - Digimon

Sabtu, 25 Desember 2010

PENINGKATAN DAYA SAING LULUSAN UNIVERSITAS TERBUKA (UT) MELALUI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN TINGGI JARAK JAUH (PTJJ) YANG BERKUALITAS INTERNASIONAL

Oleh:
Mohammad Imam Farisi dan Kisyani
UPBJJ-UT Surabaya
A. Pendahuluan
Saat ini, semua kawasan di dunia telah memiliki dan mengembangkan institusi-institusi
pendidikan tinggi jarak jauh (PTJJ). Jika pada awalnya, sebagian dari institusi PTJJ
tersebut hanya bersifat marginal, belakangan beberapa PTJJ telah berkembang pesat
menjadi pusat-pusat unggulan institusi PTJJ dan mega universitas di dunia. Setidaknya,
Jung (2005) mencatat ada 11 mega universitas jarak jauh di seluruh dunia, yaitu: Allama
Iqbal Open University (AIOU, Pakistan); Anadolu University (Anadolu, Turkey); China
Central Radio and TV University (CCRTVU, China); Indira Gandhi National Open
University (IGNOU, India); Universitas Terbuka (UT, Indonesia); Korea National Open
University (KNOU, Korea); Payame Noor University (Iran); Sukhothai Thammathirat
Open University (STOU, Thailand); Open University (OU, UK); University of South
Africa (South Africa); dan Shanghi TV University (SHTVU, China).
Kesebelas mega universitas tersebut tidak hanya dicirikan oleh besarnya jumlah
mahasiswa (lebih dari 100.000 mahasiswa)—pada tahun 2008 UT memiliki mahasiswa
pada kisaran 450.000 orang—melainkan juga karena kemampuannya menyediakan
fasilitas terpenting dalam sistem pendidikan jarak jauh yaitu penggunaan ICT dalam
pembelajaran (ICT-based learning). Mereka juga lebih menekankan pada akses yang
lebih luas daripada sekadar jaminan kualitas di tingkat internal institusi. Bagi mereka
quality assurance as a key issue that needs to be addressed not only within individual
universities but also jointly and in the global context” (Jung, 2005).
Selain mega-universitas, saat ini dikenal pula istilah universitas kelas dunia (world
class university). Untuk membangun universitas kelas dunia, menurut Kai-Ming Cheng
(13 Februari 2008) beberapa prasyarat dan komitmen yang tidak bisa ditawar adalah:
pembangunan pendidikan tinggi sebagai prioritas, memperhatikan dan mengembangkan
sumberdaya, punya identifikasi institusi, rekrutmen akademisi, dan melakukan reformasi
tata kelola.
Memang seesuai dengan konsep PTJJ, dalam oprasionalnya UT menganut prinsip
pendidikan tinggi jarak jauh jaringan” (a networking distance education), yaitu UT
dikembangkan berdasarkan kemitraan kerja yang baik dan luas dengan berbagai institusi
di daerah dan mengelola berbagai sumber daya yang tersedia untuk mendukung
tercapainya akses pendidikan secara merata dan berkualitas bagi seluruh lapisan
masyarakat. Untuk itu UT mengembangkan jaringan internal sebanyak 37 Unit Program
Belajar Jarak Jauh (UPBJJ), salah satunya UPBJJ-UT Surabaya dan sejumlah Overseas
Support Offices di luar negeri; membuka 1.753 lokasi tutorial dan 671 lokasi ujian di
seluruh kabupaten/kota di Indonesia.
Dalam hal pengembangan kurikulum, bahan ajar, soal ujian, dan penyediaan tutor,
UT menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi tatap muka. Kerja sama juga
dilakukan dengan Kantor Pos dan/atau perusahaan layanan jasa pengiriman barang untuk
pendistribusian bahan-bahan ajar bagi mahasiswa. UT juga menjalin kerja sama dengan
bank untuk keperluan pembayaran registrasi mahasiswa, dengan stasiun televisi, radio,
dan jaringan media untuk keperluan komunikasi dan interaksi dengan para mahasiswa;
dengan perpustakaan nasional dan universitas setempat untuk keperluan akses mahasiswa
terhadap sumber belajar tambahan; dengan lembaga pemerintah daerah, lembaga swasta
dan sekolah, untuk keperluan pelaksanaan praktik, praktikum, atau ujian.
Saat ini, UT memiliki sekitar 1.862 pegawai, terdiri atas 963 pegawai di UT Pusat
dan 899 pegawai di 37 UPBJJ. Dengan jumlah mahasiswa sekitar 450.000 orang, maka
rasio pegawai dan mahasiswa adalah 1:240 (tanpa melihat bidang kehalian para pegawai).
Biarpun bukan satu-satunya, tetapi sumber daya manusia (SDM) adalah unsur dan
sekaligus aset penting suatu organisasi. Salah satu kata kunci dalam pengembangan
SDM adalah kompetensi. Dalam rangka pengembangan UT ke depan, pimpinan
puncak UT berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi SDM-nya dari tahun ke
tahun. Peningkatan kompetensi dilakukan melalui jalur pendidikan lanjut atau pelatihan di
dalam dan luar negeri. Salah satu peningkatan kompetensi yang digalakkan untuk
pegawai UT, khususnya di UPBJJ saat ini adalah keterampilan memanfaatkan fasilitas
ICT baik untuk kepentingan pembelajaran maupun manajemen secara optimal (cepat,
akurat, memuaskan). Hal lain yang tak kalah penting adalah pelatihan
pengembangan kepribadian dalam konteks yang lebih luas sehingga SDM UT lebih
bersikap mandiri, mampu memberikan pelayanan prima, dan berbudaya kerja mulia
dalam konteks menciptakan Good Corporate Governance di tanah air.
Saat ini, UT memiliki empat fakultas dengan 35 program studi Diploma dan S-1
serta tiga program Magister, 117 mata kuliah melalui tutorial radio, 419 mata kuliah
melalui tutorial online, 1.002 program tutorial televisi, dan 962 (30%) bahan ajar dalam
bentuk multi-media. Sejak tahun 2002 UT mulai mengembangkan layanan UT online
berbasis ICT dan terus dikembangkan dari waktu ke waktu. Pada tahun 2005, UT
menyediakan tutorial online untuk 377 mata kuliah, dan meningkat menjadi 419 mata
kuliah pada tahun 2006. Mahasiswa yang mengakses tutorial online pada tahun 2005
sebanyak 5.225 orang, meningkat menjadi 16.243 orang tahun 2006. Selain itu, UT juga
mengumumkan hasil ujian dan pembelian bahan ajar secara online (Suparman & Zuhairi,
2007; UT, 2008). Mulai tahun 2008 ini UT berencana setahap demi setahap akan
mewajibkan mahasiswa program S-1 untuk mengikuti tutorial online, sama dengan yang
telah diterapkan kepada mahasiswa pascasarjana.
Selanjutnya, menurut Kai-Ming Cheng pula (13 Februari 2008) ada empat hal yang
harus ada dalam setiap satuan pendidikan tinggi yang menuju universitas kelas dunia,
yakni reputasi internasional, lulusan terkemuka, prestasi penelitian, dan partisipasi
internasional. Pada dasarnya, sajian ini hanya akan berfokus kepada lulusan terkemuka
saja. Akan tetapi, untuk menuju kepada lulusan terkemuka ada baiknya sedikit paparan
mengenai reputasi UT selama ini.

B. Reputasi UT
UT memiliki visi menjadi salah satu PTJJ unggulan di Asia tahun 2010 dan dunia tahun
2020. Pencapaian visi ini dibuktikan oleh pencapaian berbagai prestasi dan penghargaan
dari pemerintah dan/atau lembaga-lembaga nasional dan internasional. Pada 12 Agustus
2005 UT 2005 UT memperoleh penghargaan internasional dari International Council for
Open and Distance Education (ICDE) berupa ICDE Certificate of Quality and
International Accreditation. Pada tahun 2006, UT termasuk dalam PT di Indonesia yang
masuk dalam jajaran univ berkelas dunia: UI, ITB, IPB, UGM, Undip, dan UT; 16 Maret
2006 UT memperoleh ISO 9001:2000 untuk Layanan Distribusi Bahan Ajar; 4 September
2007, UT juga memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 bidang Pengembangan bahan Ajar
dan Bahan Ujian UT, dan bidang Lanan Belajar Jarak Jauh di 6 UPBJJ-UT: Bogor,
Yogyakarta, Palembang, Surabaya, Purwokerto, Bandung. Kemudian 10 November 2007,
lima UPBJJ-UT menyusul dalam meraih sertifikat “ISO 9001:2000 Layanan Belajar Jarak
Jauh”, yaitu : Malang, Semarang, Jakarta, Pontianak, dan Padang. April 2008, UT
mendapatkan lagi sertifikat ISO untuk Layanan Administrasi Akademik dan memperoleh
Anugerah Anindyaguna dari Mendiknas. Selanjutnya, persiapan yang intensif telah
dilakukan untuk pencapaian “ISO 9001:2000 Layanan Belajar Jarak Jauh” bagi 14
UPBJJ-UT, yaitu : (1) Medan, (2) Pangkalpinang, (3) Jambi, (4) Bengkulu, (5) Bandar
Lampung, (6) Serang, (7) Surakarta, (8) Denpasar, (9) Palu, (10) Kendari, (11)
Manado, (12) Makasar, (13) Gorontalo, dan (14) Gorontalo. UT juga akan terus
mendorong agar seluruh UPBJJ-UT lainnya di seluruh Indonesia mendapatkan sertifikat
ISO 9001:2000. Oleh sebab itu, tahun 2009, ditargetkan seluruh UPBJJ sudah bisa
meraih sertifikasi ISO 9001:2000, dan pada akhirnya, cita-cita untuk menjadi PTJJ terbaik
di dunia bisa diraih UT pada 2020 (Jurnalnet.com, 2008). Bahkan pada peringatan puncak
Hardiknas di Surabaya, 12 Mei 2008, Presiden RI secara eksplisit menyebut Universitas
Terbuka sebagai universitas berkelas dunia.
Selain itu, UT akan berupaya mengajukan sertifikasi serta beberapa ISO lagi,
khususnya ISO 27001 Information Technology (sumber: Humas UT). Keberhasilan
meraih sertifikat ISO dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan, akan menciptakan
suatu kondisi yang positif bagi dunia pendidikan jarak jauh.
UPBJJ-UT Surabaya—salah satu UPBJJ-UT penerima ISO pada tahun 2007--, telah
melakukan kerja sama dalam peningkatan akses sumber belajar bagi mahasiswa UT
melalui pemanfaatan ICT Center yang terkait dengan kegiatan Jejaring Pendidikan
Nasional (Jardiknas) Provinsi Jawa Timur. Hal ini seiring dengan jejaring ICT dari
Depdiknas, khususnya sarana dan prasarana ICT yang telah dibangun Depdiknas di
daerah-daerah. Jaringan ini terdiri atas jaringan sekolah, kantor dinas pendidikan, siswa
dan guru, serta perguruan tinggi. Kerja sama ini bertujuan untuk menginisiasi,
meningkatkan, dan memupuk hubungan kelembagaan kedua belah pihak dalam rangka
memperluas akses masyarakat terhadap PTJJ, khususnya dalam upaya peningkatan
kualitas layanan belajar bagi mahasiswa S1-PGSD melalui media komunikasi dan
informasi yang tersedia di setiap ICT Center di Kabupaten/Kota. Dengan demikian, kerja
sama dalam pemanfaatan ICT Center ini menjadi peluang besar bagi UT dalam
memberikan akses sumber belajar mahasiswa melalui internet.
Sebagai upaya tindak lanjut dari kerja sama tersebut, UPBJJ-UT Surabaya dengan
pihak ICT Center telah melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Salah
satu isi surat Perjanian Kerja Sama tersebut yang tepatnya pada pasal 3 menyebutkan
bahwa pihak pertama (ICT Center) mengakui dan menerima kartu mahasiswa UT sebagai
kartu keanggotaan ICT Center serta memberikan akses mudah dan murah dalam
memanfaatkan internet bagi mahasiswa UT .
Dalam hal UAS, UT juga memberikan kemudahan kepada mahasiswa untuk
menentukan jadwal ujian di luar waktu UAS yang sudah ditentukan, sekaligus
memberikan kesempatan ujian lebih dari sekali dalam satu semester dengan sistem
ujian berbasis komputer (SUBK). Untuk dapat mengikuti Ujian Berbasis Komputer
(UBK), mahasiswa diharapkan sudah terbiasa menggunakan komputer dan internet.
Semua informasi mengenai UBK dimuat pada website UT dan pendaftaran ujian
hanya dilakukan secara online melalui website UT.
belajar mandiri tak bertepi UT pasti

C. Daya Saing Lulusan UT
Salah satu ikon universitas kelas dunia adalah lulusan atau alumni yang terkemuka.
Alumni merupakan aset perguruan tinggi yang berperan dalam meningkatkan citra
perguruan tinggi yang bersangkutan di masyarakat. Oleh sebab itu, setiap alumni UT
harus mampu menunjukkan kualitasnya sebagai alumni UT yang seutuhnya. Perilaku dan
berbagai kebiasaan yang ditunjukkan kepada masyarakat, sedikit banyak memberikan
gambaran masyarakat tentang sosok lulusan UT yang berkualitas. Dengan kata lain, untuk
menuju universitas kelas dunia, daya saing alumni UT haruslah meyakinkan.
Konsep “daya saing” mulai populer digunakan ketika ahli ekonomi Amerika Paul
Krugman memperdebatkannya dalam teorinya tentang perdagangan, dan karena itu pula
konsep daya saing ini digunakan secara luas dalam bidang ekonomi dan manajemen
bisnis (Wikipedia, 2008). Daya saing diartikan kemampuan, kinerja, talenta, atau prestasi
yang dimiliki dan ditunjukkan oleh seseorang--perusahaan, produk, dll—melebihi yang
lain. Daya saing terbentuk selain karena faktor internal, juga karena faktor eksternal
(fasilitas, dukungan, dll). Dalam pengertian seperti itu, konsep daya saing lulusan UT
dalam tulisan ini dimaknai sebagai kemampuan, kinerja, talenta, atau prestasi yang
dimiliki dan ditunjukkan oleh para lulusan UT melebihi atau di atas rata-rata lulusan
selain UT.
Sejak didirikan tahun 1984, UT telah menerima lebih dari 1.2 juta mahasiswa dan
meluluskan 661.292 alumni (per April 2008). Alumni tersebut berasal dari segenap
komponen masyarakat mulai dari perwira tinggi, pejabat pemerintah, wiraswastawan,
guru, PNS, pegawai swasta, supir, kuli panggul, tukang baca, bahkan narapidana.
Sebagian besar dari mereka (94%) bekereja di bidang pendidikan, 3 % di bidang sosial,
2% di bidang ekonomi, 1% di bidang sains. Pada saat menjadi mahasiswa, sebagian besar
dari mereka adalah mahasiswa yang berstatus bekerja di berbagai sektor kerja profesional
pada instansi pemerintah dan/atau swasta (Suparman & Zuhairi, 2007), sebagai dosen,
guru, karyawan atau pejabat pada lembaga pemerintah, swasta, dan militer.
Dari sisi gender dan asal kepulauan, tampak adanya grafik yang menarik dari para
alumni UT, seperti yang terlihat dalam gambar berikut ini (sumber: Humas UT).
Dengan status mereka yang umumnya bekerja, motivasi para alumni ketika
melanjutkan studi di UT adalah karena menerapkan sistem belajar jarak jauh dan terbuka.
Dengan sistem ini, mereka dapat melanjutkan studi dengan keterbatasan kesempatan yang
dimilikinya, baik waktu, biaya dan tugas belajar yang harus ia ikuti, tanpa harus
meninggalkan kantor. Mahasiswa UT bisa melakukan registrasi kapan saja sesuai dengan
batas kemampuan, dengan proses registrasi yang dianggap mudah, praktis, dan tidak
memerlukan waktu yang lama. Alasan lainnya adalah karena:
 (1) obsesi/keinginan untuk
mendapatkan gelar Sarjana Negeri dengan biaya murah;
 (2) modul-modul UT cukup
sistematis karena penulis-penulis modulnyapun juga dari Universitas Negeri yang
berpotensi;
(3) prinsip ”kemandirian belajar” yang mendasari cara belajar di UT dapat
menambah kepercayaan diri dan menopang karir, menjadi lebih mandiri, inovatif dan
kreatif serta sanggup menerima tantangan. Prinsip itu dianggap menantang dan menuntut
mereka memiliki satu niat dan satu kemauan yang kuat untuk belajar;
 (4) meningkatkan
kemampuan profesionalisme dan kompetensi;
(5) menambah wawasan dan keilmuan serta
mengikuti perkembangan kemajuan, baik dalam bidang ipteks (ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni) maupun bidang lainnya.

Sajian berikut akan mendeskripsikan daya saing lulusan UT dalam bidang profesi,
maupun akademik di tingkat nasional maupun internasional. Uraian sebagian besar
didasarkan pada data yang dikumpulkan oleh petugas UT dari para alumni UT melalui
wawancara (www.student.ut.ac.id). Dalam sajian ini, diambil sampel 31 orang alumni
UT. Di antara mereka adalah ”lulusan terbaik” UT dan Mahasiswa Berprestasi Tingkat
Nasional., yakni: Usi Karundeng, Ad.Harisantoso, Wresni Wiro, Titus Tri Wibowo,
Wiranto, Subagyo H.S, A.M. Hendro Priyono, Mooryati Sudibyo, Leles Sudarmanto,
Indra Tjahjani, Suryadi Saman, Basharat Ahmad, J. Partono, Harmi Sugiarti, Agus
Santoso, Chairullah, Johan Harlan, Meita Istianda, Sri Herawati, Ayu, Rukmana,
Muhamad Husein, Ari Sulistiyo Budi, Suhandoyo, Amar Suherman, M. Santra Prawira,
Dona, Sumanto, Ira Rosalina, Enceng, La Ode Mashud. Selain itu, perlu pula diketahui
bahwa ibu negara saat ini, Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono juga merupakan alumni UT.
Sejumlah prestasi yang dicapai oleh para alumni UT di bidang profesi adalah
lahirnya para enterpreneur sukses yang bekerja dilandasi oleh semangat, ketekunan, dan
kemandirian, seperti: (1) mendapat penghargaan “Outstanding Employee” di sebuah Bank
(Persero) untuk level Manajer (Basharat Ahmad); (2) menjadi Bureau Head Corporate
Affairs, kemudian Board of Directors pada perusahaan swasta nasional di Indonesia (J.
Partono); (3) mendirikan usaha Studio Recording di bidang rekaman kaset; yang
kemudian berkembang menjadi entertainment, iklan, production house, video
dokumenter, TV program untuk kepentingan komersial atau kerja sama dengan sejumlah
lembaga/instansi pemerintah (Leles Sudarmanto); (4) merintis koperasi Bumi Tani
Cibarusa (BTC) yang merupakan kerja sama pengusaha setempat dengan kontak tani (M.
Santra Prawira); (5) menjadi jurnalis, penyiar, dan presenter yang cerdas dan dikagumi
banyak orang (Allen Usi Karundeng).
Beberapa alumni yang dapat dilacak, khususnya dari pegawai, sukses meniti
kariernya hingga prestasi puncak, seperti: (1) dipromosikan sebagai kepala bagian humas
pemerintah kota, kemudian Kadis Pendapatan Pemkab; dan Bupati (Chairullah); (2) staf
ahli atau peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Akademi Manajemen
Belitung (AMB), merangkap sebagai ketua pada CERACEBI FOUNDATION (Yayasan
Pusat Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Kepulauan Belitung); gubernur, wakil
gubernur (Suryadi Saman). Selain itu, beberapa alumni UT juga menerima penghargaan
Satya Lencana Pendidikan (kepala sekolah dan pengawas TK/SD di daerah terpencil)
pada Peringatan Puncak Hari Pendidikan Nasional, 12 Mei 2008 di Surabaya. Bahkan
menurut pengakuan mereka, sebagian besar guru-guru di daerah terpencil adalah alumni
UT.
Prestasi yang dicapai oleh para alumni UT di bidang akademik/keilmuan adalah bisa
melanjutkan studi ke jenjang S-2 dan S-3 di PTN/PTS ternama dan berkualitas di dalam
negeri atau luar negeri dengan biaya sendiri atau beasiswa, dan prestasi yang
membanggakan, seperti: (1) Landscape Architect Master Degree dengan beasiswa dari
AIDAB Scholarship, dan Doctorate Program of Environmental Sciences for Landscepe
Heritage dengan beasiswa IPRS dari Canberra University Scholarship (Indra Tjahjani);
Pascasarjana (S-2) Program Magister Manajemen UI dengan beasiswa (Basharat Ahmad);
program S-2 STPDN Jurusan Spesialisasi Administrasi Pemerintahan Daerah dan lulus
dengan predikat Cum Laude (Enceng); program S-2 Statistika di IPB (Harmi Sugiarti);
program S-2 dan S-3 di FKM-UI (Johan Harlan); program S-2 Hubungan Internasional
UI (Meita Istianda); program S-2 di Universitas Sebelas Maret, dan S-3 di Universitas
Indonesia (Hj. BRA. Mooryati Soedibyo); Pascasarjana bidang jurnalistik di Lembaga Pers
Dr. Soetomo Jakarta dengan beasiswa dari Asia Foundation (Titus Tri Wibowo).
Prestasi akademik lain yang menunjukkan kemampuan daya saing para alumni UT
adalah memperoleh penghargaan dari lembaga/yayasan yang berkiprah di bidang
penelitian dan pengembangan sains di tingkat nasional dan internasional, seperti: (1)
Science Education Award dalam lomba penelitian atau penemuan yang merupakan karya
asli bidang sains pada Lomba Kreativitas Guru Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
oleh International Toray Science Foundation (ITSF) sebuah lembaga swasta di Jepang
bekerja sama dengan LIPI, mengalahkan para peserta yang berasal dari berbagai
perguruan tinggi negeri yang terkenal, seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas
Indonesia, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Hasanudin (Muhammad Husein,
Rukmana, Sumanto, Donna, Suhandoyo); (2) juara harapan I dan Juara III pada lomba
Penulisan Naskah Buku Pelajaran tingkat provinsi (Suhandoyo).
Daya saing alumni UT juga dicapai dalam bidang ”reality show” yaitu pencetak
rekor pertama dalam kuis “Who Wants To Be A Millionare” dengan jumlah hadiah yang
begitu fantastis, 500 juta rupiah (Sri Herawati).
Berbagai prestasi di bidang profesi dan akademik yang berhasil oleh para alumni UT
tersebut menunjukkan bahwa kemampuan, kinerja, talenta, prestasi, dan motivasi yang
bersinergi dengan sistem dan prinsip belajar di UT, telah melahirkan alumni-alumni yang
prestatif, memiliki daya saing dalam berbagai bidang profesi maupun akademik. Oleh
karena itu, Hj. BRA. Mooryati Soedibyo, salah seorang alumni UT tahun 2000 dan
pengusaha wanita ahli kecantikan dan perawatan tubuh, kepada para mahasiswa dan
alumni UT mengamanatkan “berbanggalah kalian dapat berkuliah di Universitas Terbuka
karena memang masuknya sangat mudah tapi belum tentu setiap ujian dapat lulus kalau
memang tidak benar-benar belajar...ada semboyan yang berbunyi “Long life learning from
cradle to grave” yang secara bebas dapat diterjemahkan menjadi “Belajar tidak mengenal
batas usia”.

D. Peningkatan Daya Saing Lulusan UT
Masalahnya sekarang adalah bagaimana dengan peningkatan daya saing Lulusan UT?
Sejak pendirian Universitas Terbuka (UT) pada 1984, PJJ telah memanfaatkan teknologi
ajar moduler dan siaran radio. Teknologi PJJ kemudian berkembang terus hingga
menggunakan teknologi baru berupa internet pada masa globalisasi ini. Tuntutan zaman
saat ini memang mengarahkan seseorang untuk tidak gagap teknologi, termasuk tidak
gagap internet. Oleh sebab itu, salah satu upaya peningkatan daya saing lulusan UT
adalah membekali mereka dengan keterampilan menggunakan dan menguasai teknologi
masa kini, yakni internet. Beberapa layanan online telah tersedia di website UT
(www.ut.ac.id), di antaranya adalah UT online yang terdiri atas: pembelajaran online
(termasuk tutorial online), guru pintar, perpustakaan digital, toko buku online, e-
Humaniora, dan learning object repository. Yang terakhir ini menggandeng PANdora
(PAN Asia Networking Distance and Open Resource Access) dengan focus pada A
Repository of ReusableLeraning Object for Distance Leraning in Asia).
Contoh learning object material yang saat ini terpampang di website UT adalah
sebagai berikut.
Saat ini, UT melakukan intensifikasi penggunaan information technology (IT)
untuk peningkatan kualitas akademik terutama dalam layanan bantuan belajar dan
evaluasi hasil belajar. Selain itu juga dilakukan peningkatan aksesibilitas mahasiswa
terhadap bahan ajar UT secara online melalui digital library dan e-bookstore. Oleh karena
itu, pada tahun 2008 UT meningkatkan layanan dengan menawarkan tutorial tatap
muka, tutorial online, e-book store kepada semua mahasiswa dan memberikan katalog
gratis kepada semua mahasiswa yang registrasi serta ujian online di UPBJJ-UT.

E. Menuju PTJJ Berkualitas Internasional

1. UT dan Agenda Baru PTJJ di Dunia: Menuju Universitas Kelas Dunia
Menurut penelitian Pond, Twigg, Swail dan Kampits, dan Nielson (Mariasingam &
Hanna, 2006) sejak tahun 2000—2005 perkembangan institusi PTJJ di dunia
memperlihatkan adanya ekspansi yang sangat cepat, terutama dalam rencana, organisasi,
dan evaluasi program dan kinerja institusinya secara lebih efektif. Ekspansi PTJJ ini
setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor penting, yaitu: (1) berkembangnya kebutuhan
akan pelatihan dan peningkatan keterampilan secara berkelanjutan, (2) keunggulan
teknologi yang lebih memberi peluang terhadap pendidikan jarak jauh, dan (3) kesadaran
bahwa “traditional ways of organizing education need to be reinforced by innovative
methods, if the fundamental right of all people to learning is to be realized” (cf. Unesco,
2002).
Dalam prolog buku “Perspectives on Distance Education: Towards a Culture of
Quality” (2006), Koul (2006) berpendapat bahwa pada millenium ketiga ini ekspansi
PTJJ dunia telah memasuki gelombang ketiga. Gelombang pertama ditandai oleh upaya
untuk mengembangkan dasar-dasar sistem jaminan kualitas bagi PTJJ. Gelombang kedua
ditandai oleh upaya mengembangkan sistem jaminan kualitas PTJJ dalam konteks
internasional/global. Gelombang ketiga ditandai oleh upaya untuk membangun budaya
kualitas, sebuah dinamika dan agenda baru dalam institusi PTJJ. Dinamika dan agenda
baru institusi PTJJ di dunia ini, tidak lain sebagai upaya untuk mencapai kualitas standar
internasional, menjadi PTJJ kelas dunia (world class distance education). Salah satu
alasan penting terjadinya agenda baru ini—terutama di negara-negara berkembang--
adalah “the fact that this system is going to play a very important role in the 21st century
(cf. Ramanujam, 2001).
Beberapa fenomena penting yang menandai agenda baru PTJJ tersebut, antara lain
adanya upaya-upaya untuk:
(1) mengembangkan standar kualitas berdasarkan pedomanpedoman
standar kualitas internasional yang dikembangkan oleh organisasi atau lembagalembaga
standar internasional,
(2) melakukan audit kualitas oleh organisasi atau lembaga
akreditasi internasional,
(3) mendirikan organisasi atau lembaga kerjasama regional
dan/atau dunia guna mengembangkan, meningkatkan dan/atau memantapkan simintas
untuk PTJJ,
(4) menyelenggarakan forum-forum, konferensi-konferensi, workshop tingkat
regional dan/atau dunia untuk berbagi dan bertukar informasi dan pengalaman di antara
para pakar, akademisi, administrator, dan pembuat kebijakan mengenai isu-isu penting
tentang standar, mekanisme, alih kredit, pengakuan dan ranking bersama berkenaan
dengan jaminan kualitas institusi PTJJ, dan
(5) melakukan kaji-ulang terhadap
bechmarking quality yang ada dan mengembangkan “new benchmarks” mengacu pada
standar tinggi berskala internasional.
Kecenderungan baru PTJJ dunia tersebut, juga menjadi agenda utama Universitas
Terbuka (UT). Bagi UT, obsesi menjadi sebuah universitas kelas dunia merupakan bentuk
tanggung jawab dan akuntabilitas institusi terhadap masyarakat, bangsa, dan dunia.
Seperti dinyatakan oleh Rektor UT, bahwa “Jika seluruh perguruan tinggi di Indonesia
melakukan pelayanan pendidikan tinggi dengan standar dunia, maka tidak banyak lagi
masyarakat kita atau calon mahasiswa S-1 yang kuliah ke luar negeri" (Jurnalnet.com,
2008).
Dalam hal pengembangan standar kualitas, UT telah menggunakan pedoman standar
kualitas internasional di bidang PTJJ dari “ICDE dan Council for Distance Education
Accreditation (CDEA). Dalam hal audit kualitas, UT juga berhasil memperoleh sertifikat
ICDE-CDEA dalam bidang simintas bahan ajar tahun 2005; dan beberapa sertifikat ISO
9001-2000 di bidang manajemen kualitas. Dalam hal pengembangan organisasi PTJJ
regional, UT merupakan salah satu pelopor pembentukan “Asian Association of Open
Universities (AAOU)”. UT juga berpartisipasi aktif baik sebagai anggota maupun komisi
pimpinan di dalam asosiasi kerja sama regional AAOU (Rektor UT menjadi presiden
AAOU tahun ini) maupun organisasi PTJJ internasional seperti ICDE. Untuk berbagi dan
bertukar informasi dan pengalaman dalam penyelenggaraan PTJJ, UT turut berperan serta
aktif sebagai anggota dan penyelenggara forum-forum, konferensi-konferensi, workshop
tingkat regional (AAOU) dan/atau dunia (ICDE). Dewasa ini pun UT melakukan revisi
terhadap “bechmarking quality” yang ada--renstra dan renop—menjadi sebuah “new
benchmarks”--Rencana Induk Pengembangan Universitas--yang mengacu pada
pencapaian “The Millennium Development Goals” (MDGs). Acuan baru ini tidak lain
merupakan respon UT terhadap munculnya tantangan-tantangan perkembangan baru
dunia dan untuk memberikan kontribusi positif bagi perwujudan masyarakat sipil (civil
society) (Jurnalnet.com, 2007).

2. PTJJ Kualitas Internasional: Konsep dan Implementasinya di UT
Menurut Mariasingam & Hanna (2006)
Konsep kualitas bersifat subjektif, interpretatif, multidimensional, bergantung pada sudut
pandang, konseptualisasi, kerangka analisis, kategori filsafat atau pragmatis masingmasing,
dalam konteks mana digunakan (cf. Trindade, dkk. dalam Coomaraswamy &
Abeywardena, 2007; Jagadeesha, 2007; Ehlers dalam Mariasingam & Hanna, 2006).
Namun setidaknya, konsep kualitas dapat dibedakan menjadi tiga dimensi, yaitu: (1)
dimensi makna, (2) dimensi perspektif, dan (3) dimensi tingkat aplikasinya.
Dengan demikian, konsep kualitas PTJJ pun bersifat subjektif, multidimensional,
bergantung pada paradigma, kerangka analisis, dan/atau kerangka filosofi yang digunakan
oleh masing-masing institusi atau organisasi/konsorsium PTJJ dan/atau
lembaga/organisasi standarisasi/akreditasi kualitas regional dan/atau internasional.
Upaya UT menggunakan standar kualitas internasional, seperti dinyatakan oleh Jung
(2005:96) didasarkan pada komitmen UT untuk membangun dan mengembangkan
“budaya kualitas” (a culture of quality), yaitu “an institutional culture that promotes the
introduction of an internal QA system, values the capacity building for implementing QA
arrangements, stresses the link between the internal QA system and accountability to the
public at the national and international levels, and focuses on learning rather than
teaching”. Komitmen kepada budaya berkualitas ini belakangan menjadi kecenderungan
utama di berbagai institusi PTJJ di banyak negara di dunia seperti di Uganda, India,
Nigeria, Hongkong, Kanada, Amerika, Inggris, Australia, dll. (cf. Koul & Kanwar. Eds.
2006).”.
UT sendiri menggunakan konsep PTJJ kualitas internasional berdasarkan standar
kualitas dari ICDE dan CDEA. Hal ini dilakukan dalam upaya mewujudkan visinya
sebagai “salah satu institusi PTJJ unggulan di antara institusi PTJJ di Asia 2010 dan di
dunia 2020” atau “universitas kelas dunia”.
Standar kualitas internasional yang dimaksudkan mencakup tujuh aspek, yaitu: (1)
perencanaan institusi dari strategi pengembangan hingga implementasi; (2) kebijakan dan
metode rekrutmen mahasiswa baru, pemasaran, publisitas, dan promosi program; (3)
layanan konseling, pengembangan bahan ajar cetak dan konten online; (4) proses
pendaftaran, pembayaran SPP, dan registrasi; (5) bantuan belajar, metode pembelajaran
berbasis komputer; (6) kesatuan dan pemeliharaan sistem dan layanan, rekam data, dan
pendokumentasian; dan (7) komitmen terhadap nilai-nilai pendidikan, layanan pelanggan,
dan praktik bisnis kualitas tinggi (AIEA, 2005; cf. ICDE, 2005).
Bagaimana UT mengimplementasikan ketujuh aspek standar kualitas internasional
tersebut, dilaporkan oleh Jung (2005) dari hasil survainya terhadap aspek-aspek
organisasi, kebijakan dan aturan, metode, tujuan, bidang dan kriteria jaminan kualitas di
UT, sebagai berikut:
Dalam aspek organisasi, UT berhasil mengembangkan sistem organisasi jaminan
kualitas yang bersifat “a centralised total quality management system” dalam
mengkoordinasikan dan memantau implementasi aktivitas-aktivitas jaminan kualitas
di tingkat universitas didasarkan pada kebijakan dan pedoman yang dirumuskan oleh
Pusmintas.
Dalam aspek kebijakan jaminan kualitas, UT berhasil mengembangkan kebijakan
jaminan kualitas sendiri yang bersifat elaboratif (elaborated QA policies), diadopsi
dari kerangka kerja jaminan kualitas AAOU. Jaminan kualitas terdiri dari sembilan
komponen dan 107 kriteria kualitas atau pernyataan-pernyataan tentang praktik
terbaik, lengkap dengan indikator dan metode pencapaiannya. UT juga
mengembangkan 112 pedoman kerja, garis-garis besar simintas, prosedur, kriteria dan
borang-borang asesmen kualitas, sistem rekam-data proses dan keluaran, identifikasi
masalah dan solusi tindak lanjut. Semua kebijakan dan aturan tersebut digunakan oleh
para karyawan dalam aktivitas kesehariannya dalam mencapai kualitas.
Dalam aspek tujuan, UT berhasil mengembangkan simintas dengan dua tujuan, yaitu:
(1) tujuan “internal” untuk pengembangan diri, melalui penggunaan balikan dan
masukan dari berbagai sumber termasuk dari manajemen puncak bagi tercapainya
perkembangan berkelanjutan; dan
(2) tujuan “eksternal” untuk akuntabilitas kepada
masyarakat luas dan untuk otoritas jaminan kualitas nasional, melalui penerapan
metode asesmen kualitas “eksternal”, melibatkan para ahli dari Dirjen Dikti pada
setiap semester maupun dari BAN-PT setiap tiga sampai empat tahun.

Dalam aspek metode jaminan kualitas, UT secara berkelanjutan dan konsisten
melaksanakan beberapa metode yang diharapkan mampu membekali para karyawan,
dan tenaga tutor paruh waktu, kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan tugas secara efektif. Metode tersebut adalah:
(1) memberikan berbagai
peluang untuk mengikuti program-program pelatihan dan pengembangan profesional;
(2) menyertakan dalam seminar, workshop, atau konferensi tentang jaminan tingkat
internasional, bekerja sama misalnya dengan Netherlands’ International Development
Agency (NUFFIC), dan Southeast Asian Ministers of Education Organization
(SEAMEO);
(3) melakukan evaluasi dan monitoring kinerja staf secara periodik; (4)
melakukan langkah-langkah spesifik dalam pengembangan bahan ajar dari gagasan
pengembangan program hingga analisis kebutuhan pasar; dan melakukan reviu
berkala melibatkan para pakar dan penelaah eksternal.
Dalam aspek bidang dan kriteria jaminan kualitas, simintas UT berhasil
mengembangkan sembilan bidang jaminan kualitas, yaitu: kebijakan dan perencanaan;
provisi dan pengembangan SDM; administrasi dan manajemen; kemahasiswaan;
desain dan pengembangan program; desain dan pengembangan mata kuliah; bantuan
belajar; asesmen hasil belajar; dan media pembelajaran. Sedangkan kriteria
menggunakan standar kualitas ISO dan ICDE- CDEA.

F. Penutup
UT adalah institusi PTJJ dan salah satu dari 11 mega universitas di dunia yang dalam
operasionalnya menganut prinsip “pendidikan tinggi jarak jauh jaringan”. Sebagai mega
universitas, UT memiliki visi menjadi salah satu PTJJ unggulan di Asia dan dunia,
menjadi sebuah universitas kelas dunia dengan reputasi internasional, lulusan terkemuka,
prestasi penelitian, dan partisipasi internasional. Hal itu pada dasarnya merupakan
bentuk tanggung jawab dan akuntabilitas institusi (UT) terhadap masyarakat, bangsa, dan
dunia.
Untuk tujuan itu, UT secara konsisten dan berkelanjutan mengembangkan dan
mengimplementasikan standar kualitas internasional, melakukan audit kualitas,
memprakarsai organisasi atau lembaga kerjasama regional dan/atau dunia,
menyelenggarakan forum-forum, konferensi-konferensi, workshop tingkat regional
dan/atau dunia, dan melakukan kaji-ulang terhadap bechmarking quality yang ada dan
mengembangkan “new benchmarks” mengacu pada standar tinggi berskala internasional
dan pencapaian tujuan pembangunan millenium. Upaya ini diharapkan mampu
menghasilkan alumni yang berdaya saing di bidang profesi dan akademik pada tingkat
nasional maupun internasional.
Salah satu cara peningkatan daya saing lulusan UT saat ini adalah membekali
mereka dengan keterampilan menggunakan IT termasuk keterampilan mengakses
berbagai hal secara online. Dalam hal ini, UT secara konsisten telah membangun tumbuh
dan terpeliharanya sebuah budaya kualitas di internal institusi, budaya yang
menumbuhkembangkan universitas kelas dunia.

Daftar Pustaka
AIEA, 2005. Council for Distance Education Accreditation (CDEA): International
Accreditation and Quality Certification. Diunduh dari: http://aieaedu.
org/accreditation.php, 29 April 2008.
Coomaraswamy, U. & Abeywardena, N.S. 2007. Transforming Higher Education in Sri
Lanka through National Distance Education System: Ensuring Quality. Paper
presented at the 21st AAOU Conference, Kuala Lumpur 29--31 October 2007.
ICDE. 2005. Annual Report of Activities International Council for Open and Distance
Education (ICDE). Oslo, Norway. ICDE Secretariat.
Jagadeesha. 2007. Quality Assurance Programme in Karnataka State Open University.
Paper presented at the 21st AAOU Conference, Kuala Lumpur 29-31 October 2007.
Jung, Insung. 2005. “Quality Assurance Survey of Mega Universities”, dalam McIntosh,
Ch. Ed. Perspectives on Distance Education: Lifelong Learning & Distance Higher
Education. Canada-France: Commonwealth of Learning / UNESCO Publishing.
Jurnalnet.com. 02/04/2008. Target Tahun 2009 UT, Seluruh UPBJJ Peroleh ISO
9001:2000. Diunduh dari: http://www.jurnalnet.com/php. 29 April 2008.
Jurnalnet.com. 02/10/2007. UT Rumuskan Renstra Menuju Era MDGs. Diunduh dari:
http://www.jurnalnet.com/php. 29 April 2008.
belajar mandiri tak bertepi UT pasti
12
Kai-Ming Cheng. 2008. World Class University Are Not Build Overnight. Diunduh dari
http://www.dikti.go.id., 21 April 2008.
Koul, Badri N. 2006. “Towards a Culture of Quality in Open Distance Learning: Current
Practices”, dalam Koul, Badri N. & Kanwar, Asha. Eds. 2006. Perspectives on
Distance Education: Towards a Culture of Quality. Vancouver: Commonwealth of
Learning.
Mariasingam, Michael A. & Hanna, Donald E. 2006. “Benchmarking Quality in Online
Degree Programs: Status and Prospects”, dalam Online Journal of Distance
Learning Administration, Volume IX, Number III. University of West Georgia,
Distance Education Center. Diunduh dari: http://www.westga.edu/~distance/
benchmarking-quality.htm. 29 April 2008.
Ramanujam, P.R. August 2001. Distance Open Learning in the Devoloping Asian
Countries: Problems and possible Solutions. ZIFF Papiere 117, FernUniversität,
Hagen.
Suparman, A. & Zuhairi, A. 2007. Conflicting Concepts and Implementation of
partnership in Distance Education: Seeking New Ideas of Partnership for the
Future. Paper presented at the 21st AAOU Conference, Kuala Lumpur 29-31
October 2007.
UNESCO, 2002. Trends, Policy and Strategy Considerations. France: Division of Higher
Education.
UT, 2008. Katalog Universitas Terbuka. Jakarta: Penerbitan UT.
Wikipedia, 2008. Competitiveness. Wikimedia Foundation, Inc., 30 April 2008.
Yeung, Davey. 2002. “Toward an Effective Quality Assurance Model of Web-Based
Learning: The Perspective of Academic Staff”, dalam Online Journal of Distance
Learning Administration, Volume V, NumberII, Summer. State University of West
Georgia, Distance Education Center.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar